Translate

Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Juni 2017

Terhantam Palu





Sering, aku merasa bak berada di luar jangkauan semesta.
Seolah hewan lain tak mampu melihatku karena aku terlalu sibuk menyembunyikan diri.
Ya, kuakui aku sering sembunyi.
Sering sembunyi bukan berarti aku senang sembunyi.
Aku tidak senang.
Aku ingin membawa diriku keluar dari cangkang yang tanpa kusadari terus menebal seiring berjalannya waktu. Menempel lekat layaknya disolder dengan timah panas pada tubuhku yang berlendir.

Kadang cangkang itu melindungi, membuatku merasa nyaman. Namun tak jarang benda ini justru mengekang. Memberatkan.
Aku ingin melepasnya. Menunjukkan pada dunia bahwa aku ada. Di sini. Di semesta yang sama dengan semesta yang mereka pijak.
Aku lelah bersembunyi dalam ketidak nyamananku. Dalam deret ketakutan yang kurakit di benakku sendiri.
Ketika semua hewan berlomba-lomba maju dengan cepatnya, aku berjalan lamban tertatih.
Membiarkan lendirku menari meninggalkan jejak kental, lengket, lagi jelek di belakang.

Sungguh, ingin kupecahkan saja cangkang beratku ini.
Aku hanya belum tahu pasti metode macam apa yang harus digunakan.
Perlukah kusuruh seorang di antara manusia-manusia itu untuk mengambil palu dan memukulkannya padaku agar cangkang tersebut menjelma serpihan?

Ah, tidak juga.
Aku belum siap dikenang sebagai seekor siput yang mati terhantam palu.
Itupun kalau ada yang sudi mengenangku.
***

Jumat, 24 April 2015

Lamaran Pemuda Karowa

Prompt #75 Monday FlashFiction

Tema: Are You Strong Enough?




Sumber Gambar



Tabuh terus didendangkan, sementara kepala suku dan penduduk Karowa menari-nari mengitari dua orang pemuda yang tengah beradu kekuatan.
Darah segar membilur di sekujur tubuh pria yang kucintai. Ia mengerang kesakitan tiap sabetan cambuk rotan lawan membelai tubuhnya.

Teringat olehku percakapan kami minggu lalu, "Aga menemui Ayah. Sama sepertimu, ia berniat melamarku."
"Terus?"
"Bagaimana kalau kita kabur?" sebuah ide gila terlontar begitu saja dari bibirku.
"Tidak,"
"Ayolah, kita bisa lari ke belantara yang jauh dari sini, lalu bersembunyi!"
"Dan meninggalkan klan serta suku kita? Tidak," tolaknya tegas.
"Kenapa? Apa kau tak mencintaiku?"
"Tentu aku mencintaimu, tapi aku tak mau kabur."
"Kau bisa mati..."
Pria berkulit legam itu menyipitkan mata ke arahku, "Kau tak percaya kalau aku sanggup bertahan?"

Hening.

Sedetik.

Lima detik.

Ia menyunggingkan senyum, "Tenang saja, Sayangku, aku cukup tangguh untuk melewati ritual ini."

Kubalas senyumnya. Kecut.
Aga bukan pemuda sembarangan. Ia cekatan, jago berburu, dan lebih berpengalaman ketimbang kekasihku.
Menurut hukum adat suku Karowa, bila seorang gadis dilamar oleh lebih dari satu pemuda suku, maka pemuda-pemuda itu wajib melewati rangkaian ritual khusus guna beradu kekuatan.
Siapa yang terkuat berhak menikahi sang gadis.

Dan hari ini, tepat di hadapanku, mereka berdua saling cambuk. Tak akan berhenti sebelum ada yang menyerah atau mati.
Sudah sejam berlalu, dan aku tahu siapa bakal pemenangnya.

"Cukup!" kusibak kerumunan. Kekasihku terkapar loyo di tanah.
"Harusnya kita kabur saja!" seruku terisak.
Pria itu menggeleng, menggenggam erat tanganku, "Aku... cukup kuat. Percayalah! Aku pasti akan... menjadi suamimu," sejurus kemudian nyawanya terbang menjelma arwah.


*

Potongan lirik lagu yang menginspirasi: Are you strong enough to be my man, My Man?


Detail: 246 words
Estimated Reading Time: 59 seconds

Selasa, 14 April 2015

Tante Inga

Prompt #74 Monday FlashFiction

Tema:



"Siapkan barang-barangmu, Lisbet! Kita ke Kopenhagen sore ini." Sepulang sekolah, kulihat Ibu merangkung di pojok kamar. Matanya sembap, hidungnya memerah, rambutnya pun kusut-masai.

"A-Ada apa, Ibu?"

"Nenekmu meninggal," kalimat Ibu berikutnya megoyak pikiranku.

***

"Ia berusaha membakar dirinya sendiri! Sayang sekali aku tak sanggup mencegahnya."

Kami tiba di Kopenhagen sekitar pukul tujuh malam. Perjalanan dari Aarhus kemari memang memakan waktu lebih dari tiga jam.

"Sudahlah Inga, jangan menyalahkan dirimu sendiri," hibur Ibu.
Adik dari ibuku itu tampak shock atas kematian tragis Nenek yang justru terjadi tak lama setelah ia tinggal di sana. Tante Inga mulai menetap dengan Nenek minggu lalu, sejak ia dipecat dari The Nordic Food Lab dan tak mampu membayar uang sewa apartemen.
Selepas pemakaman Nenek, aku dan Ibu memutuskan untuk menginap beberapa hari di sana, sebelum kembali ke Aarhus.

"Mau es krim?" tawar Tante Inga suatu sore, ketika aku duduk melamun di beranda depan. Aku mengangguk mengambil es krim stroberi dari tangannya.

"Enak?"

"Ya, teksturnya agak lucu."

"Aku membuatnya sendiri."

"Benarkah?"

"Tentu! Apa kamu lupa kalau dulu tantemu ini peneliti di The Nordic Food Lab?" senyum bangga tersungging di bibirnya, "Tim-ku menemukan berbagai metode mengesankan dalam pembuatan makanan. Seperti semut rasa stroberi yang dicampur ke adonan kue, serangga rasa madu," Ia melirikku sejenak, mendapatiku terbelalak mendengar kisahnya. "Tapi akhirnya aku dipecat, karena es krim itu."

"Kenapa?"

"Es krim darah. Awalnya tim-ku mengembangkan metode ini dengan darah babi. Tapi menurutku darah manusia jauh lebih cocok, sayangnya mereka tak setuju."

Aku berhenti melumat es krim stroberiku.

"Akhirnya aku berusaha membuktikan pada mereka. Kuambil darah dari kantung donor dan menjadikannya es krim. Ketika ketahuan, aku malah dipecat." Wanita itu bersungut-sungut.

"Bagaimana? Enak, kan?"

Kini lidahku terasa kelu.

"Ssssst, itu darah segar Nenekmu. Kalau kamu mau, aku bisa membuatkannya dari darahmu juga." Ia mengedip, "Akan kupastikan jasadmu terbakar sempurna setelahnya."



*


Note: The Nordic Food Lab memang benar ada di Copenhagen, Denmark. Soal pembuatan es krim darah bisa dibaca di sini



Detail: 300 words [Excluding note]
Estimated Reading Time: 1 minute, 12 seconds

Minggu, 05 April 2015

Potret Keluarga

Flashfiction ini diikutsertakan dalam Tantangan Menulis FlashFiction – Tentang Kita Blog Tour





Sumber Gambar



Mutia memandang langit dengan tatapan kosong dari balkon kamar tidurnya. Perasaan sedih, penat, tertekan, bergumul jadi satu memenuhi dadanya hingga nyaris saja dada ciptaan Sang Maha Pencipta itu meledak.
Di atasnya, matahari kian membara. Hari Minggu yang memuakkan, pikirnya.
Dari lantai bawah terdengar rentetan caci-maki serta jerit bersahutan antar sepasang suami istri. Mereka sedang ribut. Tak kalah membaranya.

"Haaash! Kita cerai!" Si lelaki menjatuhkan talak pertama.
"Ya udah, ayo! Kita jual rumah ini sekalian! Aku juga udah nggak sudi tinggal seatap sama kamu, Mas!" tantang wanitanya. Suara wanita itu melengking, menegang-negang ke seantero rumah.
Pun bisa jadi tetangga di sebelah kanan, kiri, depan, belakang mereka turut mendengar perang antar pasutri tersebut. Namun kedua orang ini sama sekali tak peduli.

"Terus Mutia gimana?"
"Gimana apanya?!"
"Kamu mau bawa dia?"
"Menurutmu?"


Pokok permasalahan mulai merembet ke hak asuh putri mereka. Mutia yang sedari tadi bergeming di balkon seraya mencoba menenangkan pikiran, kini beranjak masuk kamar.
Serampangan, ia menghamburkan diri ke ranjang, berguling-guling gelisah, kemudian membenamkan wajah kuyunya di balik bantal.
Baginya ini merupakan seburuk-buruk bunga tidur, dan ia ingin sesegera mungkin terjaga.


***


Ada yang bilang, kala seseorang dilanda kesedihan yang teramat sangat, Tuhan akan memberikan rasa kantuk pada orang itu agar ia dapat beristirahat sejenak dan melupakan segala beban pikirannya.
Mungkin inilah yang tengah terjadi pada Mutia. Siang itu ia benar-benar tertidur, sampai sebuah ketukan di pintu membangunkannya.

"Nggak siap-siap sekolah?" tanya Ibu.
"Sekolah? Bukannya sekarang Minggu?"
Wanita di hadapannya memutar bola mata, "Kemarin memang Minggu, sekarang udah Senin. Kamu aja ngurung diri terus di kamar dari kemarin siang."
Mutia mengerutkan dahi. Siapa sangka bahwa ia akan tertidur begitu lama? Sejak matahari bulat-bulat berada di tengah, sampai menghilang ke arah barat, dan rekah lagi dari timur. Dari pagi ke pagi.

Selesai mandi dan sarapan, ia keluar, mendapati sang ayah tengah duduk menunggunya dalam mobil sambil menelepon seseorang dan menggenggam sekerat roti.
Senyum Mutia mengembang. Memang hari ini mereka tak bisa sarapan bersama karena kedua orang tuanya enggan duduk semeja. Namun ia lega karena Ayah atau Ibu sama sekali tak mengabaikannya.
Selama ini Mutia selalu cemas kalau-kalau ia ikut tersingkir dari keluarga kecil yang nyaris runtuh tersebut.

Begitu masuk mobil, dilihatnya tumpukan barang serta tas-tas berisi pakaian memenuhi kursi belakang.
"Itu buat apa, Yah?" tanyanya.
Yang ditanya justru menunjuk ke arah pagar rumah mereka.
Sebuah palang bertuliskan: Rumah Dijual, entah sejak kapan bertengger di sana.
"Rumah ini mau kami jual. Dan barang-barang di kursi belakang sana punyamu." Lelaki itu buka suara; Mutia memucat.
"Kami nggak bisa merawat kamu lagi. Barusan, saya telepon Bu Widji, pengurus pantimu dulu. Menurut peraturan yang berlaku, sebelum enam bulan dan pengesahan di pengadilan, kamu masih milik yayasan. Apalagi rencananya saya dan Istri segera cerai. Otomatis kami harus mengembalikanmu ke panti asuhan."
Disodorkannya sebuah potret tertanggal empat bulan lalu; pasangan muda serta anak adopsinya yang tengah tersenyum bahagia.
"Buat kenang-kenangan." Ia memeluk gadis kecil yang mulai menangis sesenggukan tersebut.


Detail: 498 words
Estimated Reading Time: 1 minute, 58 seconds


Rabu, 25 Maret 2015

Asap

#FFRabu Monday FlashFiction

Tema: Asap


Telepon terus berdering, sementara aku bergeming.
Sudah sejak kemarin nomor tak dikenal itu menghubungiku.
Awalnya memang kuangkat, tapi kemudian ia terus bergumam tentang asap.

"Asap?"
"Apa?"
"Asap?"
"Asap?" Ulangku tak yakin.
"Asap! *Hoe gaat het..."
Sekonyong-konyong ia marapalkan sebuah mantra tak jelas padaku.
Setengah bergidik, kututup panggilan telepon sebelum terkena gendam.

Sampai pagi ini, di meja makan, telepon terus berbunyi.
Tiba-tiba seseorang melongokkan kepala mengintip layar ponselku.
"Dari siapa sih? Bono, ya?"
"Bono?"
"Iya, temen lama gue di Belanda. Hape gue rusak. Jadi gue ngasih dia nomor lo deh buat ngehubungin gue. Nggak papa kan?"
Adikku, Asep menyunggingkan senyum polosnya.




*Hoe gaat het? (Belanda) = Apa kabar?


Detail: 100 words [Exclude footnote]
Estimated Reading Time: 25 seconds

Sabtu, 21 Maret 2015

Senyum

Diikutsertakan dalam #CERMIN - Cerita Mini Bentang Pustaka

Tema: Make Up



"Ayah, Nena mau ke sana!"
Anakku merengek, menunjuk-nunjuk seorang lelaki berpakaian kedodoran, perut buncit, dengan lipstik merah menor duduk tak jauh dari kami.
Lipstik lelaki itu memenuhi tepat setengah bagian wajahnya. Melengkungkan senyum serupa busur yang amat lebar.

"Ayo, Ayaaaah!"
Kali ini Nena menarik lengan bajuku.
Ah, sebenarnya aku benci badut. Tapi sebagai orang tua, tentu saja aku tak tega menolak permintaan putri bungsuku ini.
Dengan enggan kulangkahkan kaki ke arahnya. Tak seperti badut lain yang selalu ramai dikelilingi anak-anak, badut ini terduduk sendiri di bangku taman sambil menggenggam beberapa balon.

Ia tampak terkejut ketika kami mendekat. Namun dengan senyum mengembang, diladeninya anakku.
"Halo, Manis! Mau balon?"
"Mauuu!" Seru Nena girang.
Badut itu mengangsurkan balon berwana kelabu ke arah putriku. Tiba-tiba saja aku menyadari ada sesuatu yang aneh padanya.

"Mas? ..." Ujarku ragu.
Ia menoleh. Senyumnya masih lebar. Lipstik merah itu melengkung sempurna dari pipi kanan ke pipi kiri.
Namun bila kuperhatikan baik-baik, bibir lelaki itu sebenarnya sama sekali mengatup.
Bulir-bulir cairan mengalir dari celak matanya hingga membentuk garis sewarna arang yang membelah bedak tebal di pipinya. Ia menangis sendirian sedari tadi.


Detail: 183 words
Estimated Reading Time: 43 seconds

Rabu, 04 Maret 2015

Cantik

#FFRabu Monday FlashFiction

Tema: Air


"Saya sudah rutin berkunjung ke mari, Mbak! Benar-benar ampuh!" Ujar seorang gadis muda yang tak sengaja kukenal di tengah pendakian.
Mereka bilang air dari sungai-sungai di sekitar Gunung Putat Lor memang ajaib. Siapapun yang meminumnya akan terlihat cantik lagi awet muda.
Aku, sebagai wanita empat puluhan yang mulai berkeriput di sana-sini tentu tergiur mendengar desas-desus macam itu. Jadi di sinilah aku, menapaki Putat Lor demi membuktikan kebenarannya.
"Iya, kamu kelihatan muda. Berapa usiamu?" Tanyaku.
"Dua puluh."
"Ah, kalau itu sih memang masih muda."
"Bukan, saya kemari untuk mempercantik diri. Kenalkan, nama saya Suherman." Ia tersenyum cantik mengulurkan tangan kekar berbulunya.


Detail: 100 words.
Estimated Reading Time: 24 seconds.

Biografi Kunang-Kunang

Penulis: Sungging Raga





Pada malam hari, ibumu akan menjadi kunang-kunang, terbang ke hamparan bunga- bunga, ke sepanjang jalan, menelusuri remang cahaya, hinggap di daun-daun, berteduh dari embun, lalu terbang lagi, ke atap rumah, ke tiang listrik, ke bawah jembatan.
Ibumu menjadi kunang-kunang sepanjang malam, mencari kamu yang sudah lama hilang.

”Di mana kamu, anakku? Di mana?” Nyala di tubuhnya begitu terang, seperti kerinduan yang membara, namun berkedip-kedip, seperti rasa sakit yang menusuk-nusuk. Ibumu —kunang-kunang itu—terus mengembara, berjam-jam, tanpa lelah, tanpa keluh kesah. Ia akan terus mencarimu, ia arungi sepanjang jalanan yang berliku, yang senyap berbatu, ia terbang di atas sungai yang bercabang, yang entah bermuara di mana. Ia datangi setiap gubug-gubug lapuk. Sampai akhirnya ia temui kamu di sebuah rumah, rumah yang kemudian sangat dikenalnya. Dan sejak itulah, setiap malam, ibumu selalu setia mengunjungi rumah itu, melihat dirimu tertidur pulas, mendoakan keselamatanmu, lalu bergegas pergi ketika pagi hendak tiba, dengan niat untuk kembali di malam berikutnya….


***

Ceritanya akan selalu seperti itu, turun-temurun.
Di kampung sepanjang bantaran Sungai Logawa ini, kalau ada seorang anak yang kehilangan ibunya, entah meninggal atau minggat dengan lelaki kota, maka orang-orang akan menghibur dengan cerita itu, mereka akan mengatakan bahwa ibunya sekarang sudah berubah menjadi kunang- kunang yang rajin mengunjunginya. Meski tak berwujud manusia, anak itu harus sadar bahwa sang ibu masih benar-benar ada, masih suka berdiam di dekatnya, terutama di malam hari, untuk memberikan kasih sayang yang tulus kepadanya.

Sejak dahulu aku tak benar-benar percaya dengan cerita tersebut, sampai malam ini aku mendengar penuturan Antiona, gadis kecil yang baru sebulan lalu ditinggal sang ibu, menikah lagi dengan seorang pengusaha. Aku memang suka menemani Antiona yang kesepian, ia tinggal sendiri bersama sang Kakek, sementara ayahnya juga sudah tiada, menjadi korban tabrak lari oleh sebuah bus jurusan Surabaya-Yogyakarta. Antiona berkisah padaku, bahwa semalam ia baru saja bertemu ibunya.
Awalnya aku tak terkejut, sebab bisa saja ibunya memang berkunjung ke desa ini untuk menjenguk Antiona. Tetapi gadis itu berkata bahwa ibunya sudah menjelma kunang-kunang, dan ia melihat kunang-kunang itu terbang di luar kaca jendela kamarnya.
”Lalu? kamu buka jendelanya?” Tanyaku.
”Iya, kubiarkan kunang-kunang itu masuk, lalu tidur di sampingku, di atas kasur.”
”Terus?”
”Terus aku tidur dan bermimpi, dalam mimpi itu, aku benar-benar bertemu Ibu.”
”Jadi, kamu bertemu ibumu cuma dalam mimpi?”
”Iya.”
”Besok paginya bagaimana?”
”Besok paginya kunang-kunang itu hilang.”
”Hilang?”
”Iya. Hilang begitu saja.” Wajah Antiona berakhir sedih. Namun saat itu juga pikiranku melayang jauh. Setelah berpamitan dan meninggalkan rumah Antiona, cerita itu seperti berputar kembali untuk diriku sendiri.

Aku membayangkan ibuku masih hidup sampai saat ini, sampai detik ini, dan dia pun amat merindukanku malam ini. Tetapi, siapa ibuku? Barangkali ibuku memang pelacur. Ya. Sudah jadi rahasia umum, bahwa aku hanya anak pungut yang ditemukan warga dan sempat dititipkan ke keluarga kepala desa, sebelum akhirnya diserahkan ke seorang nenek di gubug dekat masjid yang kesepian.
Awalnya aku adalah bayi menangis di dalam kardus mi, menangis di bawah tiang lampu dekat pos ronda yang remang-remang.
”Dulu, kamu ditemukan warga di bawah sana,” Kata Nenek angkatku.
”Siapa yang membuang aku, Nek?”
”Mungkin saja ibumu.”
”Kenapa ibu membuangku, Nek?”
 ”Tidak tahu.”
”Terus ibu ke mana?”
”Tidak tahu.”
”Apa ibu tidak rindu aku?”
 ”Tidak tahu.”
 ”Apa Nenek mau bantu aku mencari ibu?”
”Hmm, tidak tahu.” Lalu desas-desus pun mengiringi pertumbuhanku, ketika aku beranjak empat belas tahun, ketika aku dianggap sudah mulai bisa mengingat dan menampung kenangan, setiap tetangga berusaha memberikan versinya masing- masing tentang asal-usulku.
”Biasanya, yang suka membuang bayi adalah perempuan yang masih muda, masih SMA.”
”Betul itu, mungkin ibumu masih sekolah, dan ditinggal pacarnya sehabis dihamili, jadi kamu dibuang karena tidak dikehendaki.”
 ”Eh, tapi mungkin saja kamu dibuang suster rumah sakit, karena orangtuamu tidak bisa membayar biaya persalinan, sekarang kan banyak kasus seperti itu.”
 ”Atau kamu ini korban penculikan, orangtuamu tak sanggup membayar uang tebusan.”
 ”Atau mungkin kamu harus terima kalau ibumu memang pelacur. Wanita yang jadi pelacur memang suka membuang bayi yang telat diaborsi, sudah biasa itu.”
Semakin lama, kisah tentang asal- usulku membuatku pusing, namun aku sempat heran, mengapa tak ada yang menghiburku dengan cerita yang beredar di kampung ini, bahwa ibuku sudah menjelma kunang-kunang, dan hingga kini masih setia mengunjungiku setiap malam.

”Cerita itu hanya ditujukan untuk menghibur anak-anak yang benar- benar berasal dari kampung di tepi Sungai Logawa ini, diketahui jelas siapa ibunya, dan karena alasan apa perginya. Sementara kamu sudah pasti bukan dari kampung ini, karena sewaktu kamu ditemukan, orang-orang langsung lapor ke kantor polisi, beberapa hari dilakukan pencarian, tidak ada hasil, tidak ada seorang warga pun di sini yang merasa kehilangan atau ketahuan membuang anaknya. Jadi, pasti kamu dibuang orang dari kampung lain.” Begitu penjelasan Nenek angkatku, ia suka berbicara sambil mengunyah sirih. Sebenarnya aku juga tidak terlampau berharap mereka akan menghiburku dengan cerita semacam itu, sebab toh cerita itu sangat tidak masuk akal, mana ada seorang ibu yang bisa menjelma kunang-kunang?

Semakin bertambah umurku, aku semakin tidak percaya. Tetapi semuanya nyaris runtuh setelah penuturan Antiona malam ini, entah mengapa aku merasa kisah kunang-kunang itu benar adanya. Barangkali memang tak ada yang mustahil di dunia ini. Malam sudah larut, aku berjalan pulang dari rumah Antiona dengan setengah melamun, melangkah sendirian di jalanan kampung. Dan di sebuah perempatan yang remang, beberapa ratus meter sebelum rumahku, tiba-tiba kulihat seekor kunang-kunang terbang rendah di dekat tanah.
Aku terheran-heran. Kunang-kunang itu sendirian saja, berkedip lemah. Tunggu.
Apakah ia adalah jelmaan seorang ibu yang anaknya ada di kampung ini?
Apakah ia ibu dari Antiona yang kemarin malam terbang di luar jendela?
Apakah ia ibuku yang pernah membuangku ketika aku masih bayi?
Kudekati kunang-kunang itu, kuambil salah satu botol bekas yang berserak di tempat sampah. Aku membentuk cekungan pada telapak tangan kiri untuk menggiring kunang-kunang itu masuk ke lubang botol, lalu aku menutupnya dengan telapak tanganku. Anehnya, kunang-kunang itu menurut begitu saja. Kunang-kunang itu sekarang ada dalam botol, cahayanya tak memantul, ia terbang kesana- kemari, sepertinya kebingungan, berpindah-pindah pada dinding botol. Aku setengah berlari menuju rumah, langsung ke kamar, untung saja Nenek sudah tidur, jadi tak tahu apa yang kulakukan. Kututup bagian atas botol dengan plastik dan karet, lalu kuletakkan di atas meja. Dan seperti cerita Antiona, aku berharap malam ini bisa bertemu ibu, agar aku bisa tahu wajah ibu, walaupun hanya dalam mimpi. Sambil merebah di atas tempat tidur, masih bisa kunikmati cahaya lemah kunang-kunang itu, hingga akhirnya aku terlelap dengan sendirinya.


***


Entah sudah berapa jam berlalu, aku terjaga karena sebuah guncangan kecil, tetapi cukup untuk membuatku tergagap bangun, kemudian segalanya menjadi terasa amat ringan. Tubuhku seperti melayang di udara. Dan ketika perlahan kubuka mata, tampak seorang lelaki dan seorang wanita sedang duduk dengan pandangan mata yang mengarah kepadaku.
”Jadi ini kunang-kunang yang semalam tidak mau pergi?” Tanya si laki-laki sambil mengernyitkan dahi. Si wanita lantas tersenyum.
”Benar, aku menangkapnya dengan mudah, kumasukkan ke dalam botol.”
”Untuk apa sih? Kurang kerjaan saja.”
 “Lho, kamu tidak tahu, ya? Di desa sepanjang bantaran Sungai Serayu ini, semua wanita yang pernah kehilangan anaknya, entah meninggal, hilang, diculik, atau dibuang, selalu percaya tentang sebuah cerita konyol yang diwariskan turun-temurun.”
 ”Cerita konyol?”
”Iya. Cerita bahwa anak mereka yang hilang itu masih selalu hadir dalam wujud yang lain, yaitu berwujud kunang-kunang. Jadi, kutangkap saja kunang-kunang yang kesepian ini. Soalnya, kalau melihat kunang-kunang, aku selalu teringat cerita yang sungguh tidak masuk akal itu. Lucu, ya? Mana ada anak- anak yang bisa menjadi kunang- kunang? Konyol sekali, kan? Ha ha ha.” Wanita itu terbahak-bahak, namun si lelaki sepertinya tidak tertarik untuk ikut tertawa, kulihat ia justru mengernyitkan dahi.
 ”Nalea…” Panggil si lelaki tiba-tiba. Dan wanita itu pun berhenti tertawa. ”Ya Sayang?”
”Aku jadi berpikir…” Lelaki itu menghentikan ucapannya, kini keduanya berpandangan, tak lagi menatapku.
”Berpikir apa?”
”Apa benar kata orang-orang, sebelum menikah denganku, kau sudah pernah punya anak?” Lelaki itu bertanya sambil menatap wajah si wanita dengan tajam. Wanita itu tiba-tiba terdiam. Aku seperti akan merasakan keheningan yang amat panjang di antara mereka, sampai akhirnya wanita itu tampak tersenyum tipis, lantas memeluk tubuh si lelaki, ”Tentu belum pernah, Sayang…” Situbondo, 2010

Rabu, 18 Februari 2015

Kesempatan Terakhir

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

Tema 2: 1000 Tahun Lamanya


"Nikah?!"
Aku terbelalak mendengar ajakannya.
Lucu memang. Ini hari paling aneh dalam hidupku.
Tiba-tiba saja aku dilamar oleh orang asing yang selama ini hanya kukenal melalui media sosial.
Ya, ini kali pertama kami bertatap muka secara langsung. Dan yang benar saja? Tanpa tedeng aling-aling ia langsung memintaku jadi istrinya.

"Bagaimana?" Tagihnya.
Tentu semua orang juga tahu jawaban macam apa yang bakal kulontarkan.
"Ya! Temui orang tuaku besok!" Kuembuskan napas lega.
Setelah bak seribu tahun terbelenggu dalam penantian, kukira aku tak kan pernah mendengar tawaran macam itu terlontar dari bibir pria manapun.
Bisa jadi ini merupakan kesempatan terakhirku sebagai seorang wanita empat puluh tahunan yang tak kunjung menikah.
Jika sudah begini siapa lagi yang kutunggu? Mungkin memang pria asing ini takdirku.



Detail: 120 words
Estimated Reading Time: 28 seconds

Imajinasi Liar

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

Tema 1: I'm Not The Only One


"Nonton yuk?"
Suaranya menggema di benakku bak lagu yang sengaja diputar berulang.
Sejak hari di mana ia mengajakku ke luar, aku tak dapat berhenti memikirkannya.
Ini kemajuan pesat. Sudah lama aku menyukainya, dan melakukan berbagai macam hal agar dapat terus dekat dengannya, namun ini kali pertama ia benar-benar merespon perasaanku.
Bayangkan saja, ia mengajakku nonton!
Bukankah itu romantis? Apa setelah pulang nonton ia malah akan memintaku menjadi kekasihnya? Kuharap aku seberuntung itu.

Jantungku berdegup tak karuan selagi eskalator bergerak lamban menuju lantai paling atas mal. Kuambil cermin dari tas, memastikan tatanan rambut serta make upku masih apik.
Sambil berjalan cepat menuju XXI tempat kami janji bertemu, kulihat sesosok pria memamerkan sederet senyum hangatnya seraya melambai dari jauh. Ia sudah datang!
Diikuti beberapa pemuda-pemudi lain yang rupanya teman-teman sekelas kami.

"Di sini!" Rine, salah seorang temanku berseru gembira.
"Yuk, buruan filmnya udah mau mulai!" Ucap temanku yang lain.
Sungguh, imajinasiku terlalu liar untuk membayangkan bahwa aku lah satu-satunya orang yang diajaknya.



Details: 160 words.
Estimated reading time: 38 seconds.

Kamis, 31 Oktober 2013

Seragam

Haloooo!
Menjelang hari pertama bulan November yang berbahagia ini aku mau ngepost cerpen aja deh... salah satu cerpen yang menurutku super banget!
Jujur sih aku baca cerpen ini udah lama, tapi entah kenapa baru kepikiran buat share sekarang. Maklum lagi nggak ada bahan buat posting.
Jadi ceritanya dulu pas mau ikutan kompetisi nulis, aku yang emang masih pemula dalam dunia tulis-menulis meski udah terjun sejak TK, langsung kebakaran kumis nyari-nyari referensi cerpen berbobot. Syukurlah setelah cukup lama gelayutan di internet, hatiku terpaut *ceilah sama cerpen-cerpennya Koran Kompas yang menurutku gaya bahasa dan mutunya bisa dipertanggung jawabkan.
Salah satu cerpen Kompas favoritku adalah Seragam karya Aris Kurniawan Basuki atau biasa disingkat AK Basuki. Entah kenapa buat aku pribadi cerpen yang satu ini membekas banget di hati. Well, mungkin kalau kamu baca di awal ceritanya emang kelihatan biasa aja... tapi reeek, eksekusinya ituloh!
Langsung simak sajo kali ya~





Judul: Seragam
Dimuat di Kompas: 12 Agustus 2012


Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.
Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.

Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.
”Jadi, apa yang membawamu kemari?”
”Kenangan.”
”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”
Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin. Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.

Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis.
Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya.
Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.

Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai-ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik.
Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.
”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.
”Tanggung,” jawabnya. Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya.

Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang.
Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.
Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.

Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!
”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan.
Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!

Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan.
Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat.
Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka. Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.

”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.
”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”
Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.

Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini. Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.
”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”
”Ulahnya?” Dia mengangguk.
”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami paling berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.”
Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.

”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.
Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.

End.
Sumber: dari sini


Nah gimana? Kaget nggak?
Soalnya jujur, aku nyengir sendiri pas baca bagian ending. Semacam nggak nyangka aja :D
Mendadak cerpen ini berasa kayak nepuk-nepuk jidatku yang akhirnya bikin aku sadar kalau dalam suatu cerita... daya tarik terbesar sesungguhnya terletak di ending. Kalau endingnya bagus, over all kita bakal narik kesimpulan ceritanya bagus. Tapi kalau endingnya klise dan gampang ditebak? Yah... bentaran juga lupa lagi. IMHO sih.
Jadi buat aku pribadi, cerpen ini lumayan ngasih wejangan terkait tata-cara nulis cerpen yang baik sekaligus ngingetin betapa pentingnya sebuah ending.

Next post aku bakal ngepost cerpen lagi, yang juga masuk salah satu ranah favoritku. Sekadar referensi buat yang pengin atau lagi nulis cerpen aja sih, barangkali butuh. Barangkali.
Dan buat yang kebetulan lewat, nggak sengaja baca cerpen di atas, terus siapa tahu juga punya referensi cerpen dengan ending yang menurut kalian oke? Bagi-bagi sama aku bisa kalik~ Kasih aja linknya, ntar pasti aku satroni. Thank's ^^

See you rek, in the next post!!

Jumat, 19 April 2013

Din & Time Machine

Kalian pernah nggak ngelihat gerimis?
Oke maaf, pertanyaan bodoh.
Kalian pernah nggak kejebak hujan terus ngalamin suatu moment yang sampai sekarang membekas di hati dan susah buat dilupain?
Kebanyakan pasti pernah dong, yaaa. Dan memang bener, hujan itu menurutku ajaib banget. Suasananya ituloh... bikin manusia yang pernah muda jadi rawan terjangkit penyakit kangen, inget masa lalu, dan perasaan pengin balik ke moment-moment tertentu. Kalau udah gini pengin deh rasanya punya mesin waktu biar bisa ngerasain atau ngulang kejadian-kejadian itu sekali lagi. Tapi ya kita semua paham lah, ya. Dunia belum secanggih itu. Jadi apa yang bisa kita lakukan pas kejebak dalam situasi macam ini?
NULIS!! yeaaaah~

Gerimis-gerimis gini mendadak jadi kangen kebangetan parah sama manusia yang satu itu. Padahal niatnya udah nggak komunikasi biar cepet ngelupain doi, tapi nggak tau kenapa makin hubungan kami jauh kangennya malah makin kurang ajar. Hoh.
kepikiran lagi sama orang-orang yang dulu sempat berseliweran di hidupku. Ya mulai dari zaman SD-SMP-SMK, pokoknya mereka yang menurutku lumayan membekaslah, meski sekarang juga udah biasa aja sih. Time erases almost everything.
Jadi demi mengenang jasa para pahlawan yang sempat bermarkas di hati ini #tsah aku mau bikin beberapa tulisan buat mereka :3
Itung-itung sebagai tanda terima kasih karena udah mau repot-repot mampir di hidupku, sekaligus nostalgia buat ngatasi kangen yang rupanya baru mulai kerasa pas ngetik ini post.
Satu orang kutulis dalam beberapa point, point-point pentingnya doang sih. Pokoknya yang aku masih inget banget momentnya.

Dimulai dari awal gimana aku kenal perasaan ganjil itu....

P.S. Bahasanya rada didramatisir dikit ya, biar kerasa. Iya, kerasakkk.

***

Candu

Entah sejak kapan aku mulai benar-benar melakoni rutinitas ini. Entah sejak kapan aku mulai ketagihan memperhatikannya dari pinggir lapangan. Tau-tau perasaan aneh sudah bersarang saja di hatiku tiap aku melihatnya.

Ia memegang bola berlari ke sana kemari dengan mulut penuh senyum.Teman-temannya pun terus berusaha merebut bola dari bocah berambut sedikit gondrong itu. Meski agak gondrong, tak seperti anak lelaki lain, rambutnya tampak halus dan menyenangkan untuk dielus(?)
Ya, mungkin karena masih SD, rambutnya terlihat masih sehat dan belum terkontaminasi zat-zat aneh seperti pewarna rambut, minyak rambut, minyak nyong-nyong, dan lain sebagainya. Yang mungkin saja akan sering ia jumpai kala menginjak usia remaja.

Sebut saja namanya Emas. Emas dalam bahasa Jawa berarti Kakak dengan embel-embel E di depannya agar terlihat lebih keren. Kuharap.
Di sini aku menyebutnya Emas karena ia memang beberapa tahun lebih tua dariku. Bukan berarti aku tak tahu nama aslinya. Aku tahu tapi malas memberitahu. Dan bukan berarti di dunia nyata aku juga memanggilnya dengan nama itu. Bahkan bisa dibilang aku belum pernah memanggilnya sama sekali.

Emas jago bermain basket..., ah tidak. Sebenarnya ia sering dan tampaknya sangat suka bermain basket. Tak tahu ia jago atau tidak, karena selama permainan aku hanya memperhatikan dia. Bukan bolanya. Bukan juga gerak-geriknya melawan para pemain lawan.
Namun seingatku ia berperawakan setinggi tiang, jadi sudah tentu ia mampu memasukkan bola-bola langsung ke arah ring dengan mudahnya. Atau mungkin juga aku yang ketika itu masih terbilang pendek sehingga mengira ia tinggi. Errr sudahlah.

Sepanjang jam istirahat, pulang sekolah, jam olahraga yang kadang berbarengan, terutama ketika ia bermain basket, mataku tak pernah luput darinya. Mungkin senyumnyalah yang mengeluarkan semacam aura magnetik sehingga membuat orang lain fanatik(?), bisa juga postur tubuhnya yang menjulang, atau bahkan rambut a la iklan shampo Li*fe Buo*y-nya. Segala sesuatu yang ada padanya saat itu begitu menawan dalam benak anak SD-ku.
Jangan kaget, anak SD juga sudah mulai bisa merasakan hal-hal ganjil di hatinya. Tapi memang benar, yang kurasakan saat itu bukanlah perasaan cinta, cinta mendalam, cinta mati, cinta selamanya atau cinta-cintaan lain yang biasa terjadi di kalangan ABG. Mengingat aku memang masih SD, bisa kubilang ini hanya semacam perasaan kagum. Kagum yang membuat candu.

Tak ingat pasti kelas berapa aku kala itu. Yang kutahu dia sudah duduk di kelas enam, dan akan resmi menghilang tepat ketika aku naik kelas. Padahal kuharap ada sedikit perpanjangan waktu bagiku menikmati rutinitas yang pantas difavoritkan ini: Mencurahkan segenap perasaan canduku yang pertama padanya.

***

Pretty Boy

Sudahkah aku mengatakan padamu bahwa ia cantik?
Ya. Emas memang lelaki, tapi kalau boleh jujur ia terbilang lumayan cantik untuk ukuran seorang lelaki. Tidak, bukan berarti ia lemah gemulai, gemar memakai pita, atau diragukan kejantanannya, namun wajahnya itu hanya sangat... sulit untuk dijelaskan.

Pernahkah kau melihat aktor-aktor dalam drama Korea? Sifat dan perilaku mereka bak lelaki tulen, namun wajah mereka cantik.
Seperti itulah Emas-ku, meski wajahnya sama sekali bukan Korea, tidak sipit atau semacamnya, ia tipe lelaki Indonesia yang cantik ketika tersenyum sekaligus keren ketika bertemu bola basket.
Tanpa disangka, salah seorang temanku turut jatuh kagum pada lelaki cantik nan keren ini.

Sekali waktu, ketika jam istirahat, aku berdiri mematung menatap lapangan tempat ia biasa bermain basket. Tiba-tiba saja temanku berdiri di sampingku sembari berbisik a la anak SD, "Mas itu loh ganteng ya! hihi." Ujarnya seingatku, di samping ingatanku yang juga mulai agak kabur tentang adegan kecil ini.
"Loh? Iya, aku suka sama Mas itu. Kamu juga?" sahutku kurang-lebih dengan polos dan ceplas-ceplosnya. Selanjutnya kami hanya bertukar senyum kemudian bersama-sama memandanginya dari jauh. Aku tak tahu apa yang ada dalam benakku detik itu. Perasaan senang mungkin?
Ya, anak SD memang sama sekali berbeda dengan remaja. Dalam dunia per-ABG-an a la sinetron atau FTV di televisi, bila salah satu temanmu juga menyukai orang yang kau suka, option termainstream yang kau punya adalah:

• Menentukan mana yang kau pilih antara teman atau lelaki tersebut.
• Berusaha menyaingi temanmu bila pada akhirnya kau memilih lelaki itu.
• Bila kau memilih teman, kau harus rela melupakan si lelaki sembari menangis sesenggukan dan menyanyikan lagu-lagu mellow mengiris hati tiap malam minggu kliwon.
• Backstreet.
• LABRAK. Eww.

Namun tidak. Ketika ada orang yang merasakan hal yang kurasakan, dalam hal ini 'sama-sama mengaguminya' entah mengapa anak SD sepertiku justru merasa senang. Bila kau remaja, rasanya nyaris sama seperti ketika kau adalah fans berat dari suatu band keren namun band itu memiliki jumlah fans teramat sedikit, dan tiba-tiba saja secara tak sengaja atau tak diharapkan kau bertemu dengan salah satu fans lain. Tentu saja itu merupakan hal yang menarik, dan kadang terlintas dalam benakmu, "Sudah kuduga band ini memang bagus, tidak mungkin hanya aku seorang yang menyukai musik-musik mereka."
Lagipula bertukar pikiran dengan sesama fans merupakan hal yang menyenangkan, bukan?
Alhasil kami dua bocah SD ini mulai sering diam-diam memperhatikan Emas, dan mungkin mulai mengerti apa itu perasaan kagum yang kemudian biasa disebut 'suka' ketika rasa kagum tersebut terlanjur meluber ke mana-mana.

***

Emas

Dia telah lulus. Tak ada lagi tontonan menarik yang dapat kutunggu di lapangan sekolah. Tak ada lagi senyum menawan yang mendominasi wajahnya ketika ia asyik bermain basket.
Aku rindu. Ya, aku rindu melihat rambut halus kemilaunya melambai-lambai tersapu angin ketika ia melompat dan berlarian bersama kawan-kawannya bak iklan shampo di televisi. Sosok itu menghilang begitu saja. Tahun demi tahun berlalu dengan rangkaian rutinitas lain dan ketika tersadar aku sudah duduk di kelas lima. Tanpa kuduga pula, aku sudah memiliki orang mengagumkan lain yang mengambil alih perhatianku.

Hari-hariku berlangsung biasa saja, ketika tiba-tiba di suatu siang yang panas, tampak gerombolan orang asing menyerbu masuk ke dalam kelas.
Guru yang saat itu mengajar pun seketika terkejut dengan kehadiran sosok-sosok misterius ini. Namun akhirnya dengan sopan mereka menegur sang guru sambil bersalaman. Guruku tersenyum. Senyuman rindu, "Kalian di mana sekarang?" Tanya beliau.
Satu-persatu menjawab dengan riang, menyebutkan nama-nama sekolah. Kebetulan tempat dudukku terletak tak jauh dari meja guru. Meski tak jelas apa yang sedang mereka obrolkan, dari tempatku aku dapat mengamati mereka satu demi satu. Mereka semua tampak asing. Namun sekelebat aku seperti mengenal salah seorang diantaranya. Postur tubuhnya, rambutnya, senyumnya, dia...
Aku terkejut mendapati dirinya terselip disela-sela memori otakku, lelaki cantik nan keren yang nyaris kulupakan sama sekali. Bulu kudukku meremang ketika tiba-tiba saja dua orang temanku yang sepertinya pernah kuceritakan tentang sosok itu memekik girang sambil terkikik dari bangku belakang, "Din, Din, ada Emas, Din!"

***

Duh sorry, segitu aja. Kurang greget ya? Yaiyalah, ini kisah nyata. Kalau ngarang sendiri sih udah kubuat kedua tokoh utama saling bercipika-cipika dan bercubit gemes di akhir cerita. Tapi ya kadang kenyataan emang nggak seindah harapan kita... sedih.
Udahlah, selanjutnya mau ngepost kisah kedua, masih tentang kakak kelas juga. Tapi bukan si Emas :3

Mingtian Jian~

Minggu, 18 Maret 2012

Pincers World


Apa pendapatmu kalau seandainya seekor kepiting berpasangan dengan kalajengking?
Mereka sama-sama memiliki capit, apakah mereka akan saling mencapit satu sama lain? Atau... apakah mereka justru dengan mudah bersatu karena adanya persamaan tersebut?


Aku, adalah seekor kepiting betina. Aku termasuk hewan yang tak terlalu banyak bicara, karena aku memang tak mahir dalam hal tersebut. Namun bila ada yang menggangguku, aku tak akan segan mencapitnya tanpa harus memberi peringatan terlebih dahulu. Di sekolahku aku memiliki dua ekor sahabat dari spesies hewan yang berbeda, Zoe si ulat gemuk dan Mex si anak tikus penakut. Kami bertiga berteman sejak lama, aku tahu semua rahasia mereka, dan tentu saja mereka tahu semua rahasiaku, termasuk rahasia bahwa aku yang notabene seekor kepiting ini terlanjur jatuh hati pada kalajengking dari kelas sebelah. Padahal seluruh dunia juga tahu bahwa hal itu benar-benar menyalahi aturan. Aku tak boleh jatuh cinta pada spesies lain kecuali sesama kepiting. Bila hal itu sampai terjadi, maka akan timbul ketidak seimbangan dalam ekosistem tentu saja.

Namun apa mau dikata?
Kalajengking itu pintar, memiliki selera humor yang bagus, serta gerak-gerik penuh kuasa. Capitnya kuat, mengkilat, dan keren. Berbeda dengan capitku yang lemah. Bukan karena aku betina, sebenarnya memang capit semua kepiting jantan pun akan terlihat amat tak bertenaga bila dibandingkan dengan capit kalajengking yang satu itu.
Intinya, aku benar-benar mengaguminya. Aku menyukainya. Dan agar dapat dekat dengannya, aku melakukan berbagai macam riset tentang tingkah laku kalajengking, mencari tahu apa saja yang ia sukai, mengumpulkan beberapa fakta menarik tentang spesies mereka di Google, bahkan bertanya langsung perihal kepribadiannya pada salah seekor anak kambing, teman sekelas si kalajengking yang dengan berbaik hati mau membantuku.

Ketika sudah merasa cukup memahaminya, aku mulai mengajaknya mengobrol lewat dunia maya. 'Mengobrol' dengan tulisan, karena seperti yang kubilang tadi, aku tak pandai berkata-kata.
Beruntung aku lahir di era penuh dengan media sosial seperti Facebook, Twitter, Google Plus, Plurk, Blog, Tumblr, Bebo dan lain sebagainya ini, sehingga aku dapat dengan mudah berkomunikasi dengannya tanpa harus bertatap muka, yang sudah pasti akan membuat seluruh cangkangku bersemu merah karena malu.
Tiap hari aku mengajaknya membicarakan hal-hal yang ia sukai hanya agar ia merasa nyaman mengobrol denganku. Setelahnya, apapun yang kuobrolkan dengan kalajengking kuteruskan pada tikus dan ulat yang memang selalu menagih cerita-cerita semacam itu dariku.

Jujur saja, awalnya mereka tak dapat menerima hal tersebut. Mereka melarangku untuk memperdalam perasaanku, karena mereka menganggap usahaku akan sia-sia pada akhirnya.
"Kau kepiting, dia kalajengking." Hal itulah yang terus dikomat-kamitkan bak mantra oleh kedua sahabatku. Namun aku selalu membantahnya, "Dia jantan, aku betina. Dan kami sama-sama punya capit."
Karena aku bersikeras, mau tak mau mereka luluh dan memutuskan untuk menemaniku berjuang. Mereka berpikir untuk membiarkanku sampai aku menyerah dengan sendirinya. Tapi tentu saja tidak, akan kutunjukkan pada mereka bahwa kepiting dan kalajengking pasti dapat bersatu.

Suatu sore aku mendengar bahwa Pincers World akan diselenggarakan di kampus sepupuku, kepiting betina itu mengajakku untuk pergi bersama melihat event tersebut. Pincers World merupakan salah satu event bergengsi tahunan bertemakan kebudayaan hewan-hewan bercapit. Tak heran bila kebanyakan yang datang ialah kepiting, kalajengking, keong, lobster dan hewan pencapit lainnya. Namun tetap saja event ini terbuka untuk umum, hewan apapun bebas masuk asal mengenakan kostum dengan capit tambahan di tubuhnya.
Akan ada banyak makanan lezat, costume player, band, games, dan lain sebagainya, yang kemudian ditutup manis oleh pesta kembang api di akhir acara.

Berdasarkan obrolanku dengan kalajengking serta riset yang kulakukan selama ini, aku sadar benar dia amat mengagumi budaya spesiesnya, dan keunggulan yg diberikan oleh Tuhan kepada kami, hewan-hewan bercapit.
Bermodalkan sejumput keberanian, aku mengajaknya untuk datang bersama ke event tersebut, dan dari respon yang ia berikan, ia nampak tertarik. Atau setidaknya aku sempat berpikir begitu.
Aku begitu senang. Detik itu juga imajinasiku melayang-layang di udara, membayangkan berbagai hal yang mungkin dapat kami lakukan bersama, misalnya menonton pesta kembang api. Bukankah itu ummm... lumayan romantis?
Yang jelas bila hal itu benar-benar terjadi aku harus mengabadikan banyak gambar. Itu akan menjadi kenangan tak terlupakan.

***

Tibalah hari di mana Pincers World diselenggarakan, sore itu aku telah bersiap untuk berangkat ke sana dengan sepupu kepitingku. Tanpa kami duga awan hitam menggenang di angkasa. Langit yang tadinya terang-benderang kini berubah muram.
"Yah... mendung, bentar lagi pasti hujan. Gimana nih mau tetap berangkat?" Tanya sepupuku sambil mengangkat capitnya ke arah arakan awan.
Aku dengan cemas membayangkan wajah kecewa kalajengking bila aku batal berangkat. Bagaimana kalau seandainya ia sudah tiba duluan di sana dan sedang menungguku?
Aku tak dapat memastikannya secara langsung karena sial sekali, aku tak punya nomor ponselnya.
Alhasil, aku dan sepupuku memaksakan untuk tetap berangkat.




Setibanya di sana, aku amat terpukau dengan keadaan sekeliling.
Berbagai jenis spesies binatang berkumpul di sana menggunakan capit-capit pasangan. Anjing dengan capit di ekor, landak dengan ratusan capit imut di masing-masing durinya, banteng bertanduk capit, dan lain sebagainya. Mereka semua nampak imut dan lucu.
Aku serta sepupuku tak kuasa menahan keinginan kami untuk berpose bersama mereka. Hewan apapun yang kami temui mengenakan capit pasangan, akan langsung kami tarik untuk berfoto meski kami tak mengenal mereka barang sedikitpun. Ini lumayan menyenangkan. Tapi... masih ada satu hal yang kurang. Aku melirik ke sana-ke mari, mencari satu sosok yang kuharap berada di sini.
Nihil, aku tak berhasil menemukannya. Saat itu juga harapan dan imajinasiku sirna. Seolah memahami perasaanku, awan yang sedaritadi terasa sendu kini memuntahkan air matanya.

"Eh gerimis! Yuk cari tempat teduh!" Sepupu kepitingku dan aku berlari-lari kecil ke arah sebuah stan penjual es krim goreng dan beberapa camilan. Sambil menunggu hujan reda, kami memesan es krim goreng di sana lalu mulai mengutak-atik ponsel masing-masing. Aku log in Facebook, dan melihat beberapa notifikasi. Salah satunya dari kalajengking yang menulis sesuatu di dindingku. Rupanya ia batal datang. Ada beberapa tugas sekolah yang harus ia selesaikan. Tugas kelompok dengan beberapa teman sekelasnya.
Baiklah, ini agak... ajaib. Mungkin aku mengharap terlalu banyak. Kini seluruh harapanku terhempas sudah.
Seharusnya ini menjadi hari yang sempurna. Hari di mana hewan dari spesies apapun sangat mungkin bersatu. Bahkan landak, anjing dan banteng pun dapat membaur di sini, tentu bukan hal yang mustahil bagi kami, kepiting dan kalajengking untuk bersatu. Yah, meskipun mungkin 'bersatu' disini bukan dalam ikatan perasaan, tapi tetap saja... tak ada yang tak mungkin. Benar kan?
Atau,
Mungkin kah aku salah? Apa tingkat khayalku sudah terlalu tinggi hingga tak mampu membedakan antara yang mungkin terjadi dan yang mustahil terjadi?
Apa kedua sahabatku, Zoe dan Mex benar?
Kami... tak akan pernah bersatu.

Dia kalajengking, aku kepiting. Kami sama-sama punya capit, bukan untuk dipersatukan. Mungkin memang capit ini diciptakan untuk saling mencapit. Dan rupanya ia sudah memahami teori ini lebih dulu daripada aku, karena tanpa kusadari ia telah berhasil mencapit dan mengoyak hatiku sore itu.

FIN.


Cerita ini bukan fiktif belaka, ketidaksamaan nama dan wujud tokoh memang atas unsur kesengajaan.




posted from Bloggeroid