Translate

Tampilkan postingan dengan label Randomizing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Randomizing. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Juni 2017

Terhantam Palu





Sering, aku merasa bak berada di luar jangkauan semesta.
Seolah hewan lain tak mampu melihatku karena aku terlalu sibuk menyembunyikan diri.
Ya, kuakui aku sering sembunyi.
Sering sembunyi bukan berarti aku senang sembunyi.
Aku tidak senang.
Aku ingin membawa diriku keluar dari cangkang yang tanpa kusadari terus menebal seiring berjalannya waktu. Menempel lekat layaknya disolder dengan timah panas pada tubuhku yang berlendir.

Kadang cangkang itu melindungi, membuatku merasa nyaman. Namun tak jarang benda ini justru mengekang. Memberatkan.
Aku ingin melepasnya. Menunjukkan pada dunia bahwa aku ada. Di sini. Di semesta yang sama dengan semesta yang mereka pijak.
Aku lelah bersembunyi dalam ketidak nyamananku. Dalam deret ketakutan yang kurakit di benakku sendiri.
Ketika semua hewan berlomba-lomba maju dengan cepatnya, aku berjalan lamban tertatih.
Membiarkan lendirku menari meninggalkan jejak kental, lengket, lagi jelek di belakang.

Sungguh, ingin kupecahkan saja cangkang beratku ini.
Aku hanya belum tahu pasti metode macam apa yang harus digunakan.
Perlukah kusuruh seorang di antara manusia-manusia itu untuk mengambil palu dan memukulkannya padaku agar cangkang tersebut menjelma serpihan?

Ah, tidak juga.
Aku belum siap dikenang sebagai seekor siput yang mati terhantam palu.
Itupun kalau ada yang sudi mengenangku.
***

Rabu, 18 Maret 2015

Review Winnetou I Kepala Suku Apache

____________________________________________

Judul: Winnetou I Kepala Suku Apache
Pengarang: Karl May
Penerbit: Pustaka Primatama
Tim Penerjemah: Primardina H. Wijayanti (koordinator sekaligus penerjemah), dkk.
Cetakan: V, Februari 2006
Tebal: 542 hlm; 14 x 21 cm
Genre: Travel-Fiction, Adventure

____________________________________________



"Berdiri di samping tempat tidur orang yang akan meninggal merupakan pengalaman menyedihkan. Tapi kesedihan akan menjadi seratus kali lipat jika yang mati itu adalah sebuah suku bangsa."

Novel karya Karl May yang originalnya terbit tahun 1893 dalam bahasa Jerman ini (iya, buku lama) lumayan menarik perhatian saya begitu membaca bagian pengantar serta pembuka bab pertama.
Baru menyimak beberapa potong kalimatnya saja sudah membuat hati terenyuh sekaligus jengkel.
Karl May telah menampar dan mengingatkan saya bahwa di dunia ini masih banyak sekali orang; atau dalam konteks ini suku bangsa serta kelompok masyarakat tertentu yang diperlakukan secara tidak adil.
Betapa jahatnya manusia yang memanfaatkan kebaikan serta keluguan manusia lain demi kepentingan dan keserakahan dirinya sendiri.

Di bagian pengantar, Karl May memaparkan sejarah singkat soal orang kulit putih yang baru pertama kali menapakkan kaki mereka di tanah Amerika, tanah yang mulanya dihuni oleh orang-orang kulit merah; suku Indian.

Orang kulit merah menyambut tamu jauhnya dengan tangan terbuka, bahkan mengadakan semacam ritual penghormatan sakral.
Tapi siapa sangka? Tamu-tamu itu justru tersenyum sok manis sambil menyembunyikan pisau tajam di balik punggung mereka. Menjanjikan perdamaian, dan serentetan omong kosong lain namun siap menghunus sang tuan rumah kapanpun mereka lengah.

"Yang kuat memakan yang lemah." Terdengar jahat memang, tapi pada kenyataannya hukum itu sudah menyebar dan dapat diterima di seantero jagad. Orang kulit merah terpaksa menyingkir setapak demi setapak dari tanah milik mereka sendiri, karena dengan brutalnya mereka dikejar dan dibantai habis-habisan hingga nyaris punah.


Karl May


Setelah membahas sejarah genosida suku Indian, di bab-bab selanjutnya Karl May mulai meracik kisah unik tentang greenhorn pemberani asal Jerman yang baru tiba di Wild West (Amerika).
Dalam novel ini penulis menggunakan gaya penulisan solilokui. Sejak awal ia menyebut si tokoh utama dengan kata ganti orang pertama, yakni "Saya," kemudian tokoh-tokoh lain yang berinteraksi dengan tokoh utama pun hanya memanggilnya dengan "Anda, Sir, Gentleman, Greenhorn, Old Shatterhand," dan berbagai julukan lain.
Entah karena kurang teliti atau bagaimana, tapi saya belum benar-benar menemukan penulis menyematkan nama asli sang tokoh utama. Pembaca dibuat percaya bahwa tokoh "Saya" adalah Karl May dan pengalaman hidupnya sendiri.
Belakangan (di buku-buku selanjutnya) baru disebutkan kalau pemuda Jerman itu bernama Charley.

Charley merupakan sesosok greenhorn yang cerdik, tangkas, lagi mahir dalam segala hal. Sifat-sifatnya tergambar secara gamblang hingga terkesan berlebihan bahkan tidak masuk akal menurut saya. Karakternya dibentuk sedemikian rupa seolah tanpa cacat.
Ia dipercaya untuk bekerja sebagai surveyor lalu dikirim ke daerah hulu Rio Pecos dan Pegunungan Canadian Selatan. Tugasnya tak lain adalah mengukur jalan di wilayah tersebut guna membangun jalur kereta api. Namun tanpa diduga ia justru menemui banyak hambatan. Mulai dari rekan-rekan kerjanya yang sulit untuk diajak bekerja sama, hingga terlibat pertikaian bertubi-tubi dengan pemimpin westman dan para anggotanya.

Westman sendiri merupakan istilah ciptaan pengarang untuk man of the west atau lebih tepatnya frontierman. Supaya otentik, istilah keliru ini tetap dipertahankan.
Westman-westmen terpilih bertugas untuk menjaga surveyor dari berbagai ancaman seperti gangguan hewan buas (bison, mustang, beruang grizzly) atau bahkan serangan mendadak dari bangsa Indian, karena rupanya orang-orang kulit putih ini membangun jalur kereta api di atas tanah milik bangsa Indian suku Apache Mescalero tanpa izin.

Suatu hari kepala suku Apache (Intschu Tschuna) beserta anaknya (Winnetou), dan salah seorang guru kehormatan Apache (Klekih-petra), datang untuk memberi peringatan keras sekaligus mengusir mereka dari tanah tersebut.
Ketiga Apache itu takut kalau pembangunan rel kereta api justru membuat kaum mereka makin terdesak dan sengsara oleh kehadiran para pendatang baru. Padahal selama ini mereka sudah berusaha mengungsi sejauh mungkin.
Namun sayangnya terjadi kesalahpahaman antar Winnetou dan pimpinan westmen hingga berujung malapetaka.
Sejak itulah sang tokoh utama yang ikut terlibat sebagai surveyor mulai berurusan dengan orang-orang Apache.

Kisah ini masih amat panjang. Pengarang menulisnya hingga empat seri Winnetou, dan buku-buku tersebut begitu populer di masanya.
Jujur saja, saya menyukai genre-genre macam ini.
Kisah tentang perburuan, petualangan di belantara liar, pertemuan dengan suku-suku pedalaman, kegiatan memata-matai, bahkan penyelidikan, serta pencarian jejak a la Indian tak pernah gagal merampok perhatian saya. Untuk itu, saya memberi 4 dari 5 bintang.

Selain menarik, di dalamnya juga mengandung banyak sekali nilai-nilai moral seperti keadilan, kejujuran, dan keberanian. Melalui karya-karyanya, Karl May menyerukan ajakan perdamaian bagi seluruh umat manusia tanpa pandang kebangsaan, warna kulit, suku, ras, dan agama.

Saya agak terkejut karena menurut Mas Wiki, tokoh dunia kelas Albert Einstein dan Adolf Hitler pun turut menggemari karya-karya Karl May.


Diikutkan dalam #ReviewMaret @ridoarbain @momo_DM @danissyamra di https://bianglalakata.wordpress.com/2015/03/03/reviewmaret-ayo-me-review-buku-fiksi/

Rabu, 04 Maret 2015

Review Stardust by Neil Gaiman

Sebenarnya sudah sejak beberapa tahun lalu saya membaca novel Stardust. Namun kemarin entah ada angin apa saya tergiur untuk membacanya ulang, dan menuliskan sedikit review tentang buku lawas ini.
Biar bagaimanapun novel-novel karya Neil Gaiman memang selalu berhasil mempermainkan imajinasi saya.
Sebagai sosok manusia yang menginjak usia dua puluhan (dan mungkin sudah tak bisa dianggap anak kecil lagi; bila tak mau disebut tua), saya sempat bertanya dalam hati, apakah kekanakan bila sampai detik ini saya masih menyukai tulisan-tulisan beliau?
Karena jujur saja, sebagian besar karya Neil Gaiman bergenre fantasi, diceritakan bak dongeng, dan memang sengaja ditulis untuk menemani imajinasi liar anak-anak. Kita semua tentu tahu bahwa salah satu novelnya, Coraline, sempat diadaptasi ke dalam sebuah film animasi.





Mungkin saya memang bukan lagi anak kecil. Namun tak perlu jadi anak-anak hanya untuk turut menikmati sebuah dongeng, kan?
Dalam kesempatan kali ini saya ingin me-review novel beliau yang siapa tahu dapat sedikit menggeser presepsi kita semua tentang dongeng.
Berikut tampilan cover serta detailnya:





Judul: Stardust (Serbuk Bintang)
Pengarang: Neil Gaiman
Alih Bahasa: Femmy Syahrani dan Herman Ardiyanto
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2007
Tebal: 256 halaman
ISBN: 979-22-2688-5


"Ini dongeng untuk orang dewasa." Terang Neil Gaiman sebagai kalimat pembuka sinopsis.
Entah mengapa saya merasa agak spesial sekaligus tergelitik saat membaca tulisan tersebut. Spesial karena seolah buku ini dialamatkan khusus untuk saya haha.
Dari sinopsisnya pun beliau sudah berani menampik stereotip tentang dongeng yang cuma diperuntukkan bagi bocah-bocah saja. Senang mengetahui bahwa saya masih 'diizinkan' membaca dongeng.

Dikisahkan zaman dahulu kala, terdapat sebuah desa kecil di Inggris bernama desa Tembok.
Di sebelah timur desa itu menjulang sebuah tembok raksasa yang terbuat dari balok-balok granit kasar. Hanya ada satu celah kecil pada tembok kuno tersebut yang menghubungkan antara orang-orang desa Tembok dengan negeri di luar tembok.
Namun sejak ratusan tahun lalu celah kecil itu diapit dan dijaga bergantian oleh pria-pria desa. Anak kecil, para pengelana, atau siapapun akan diusir bila kedapatan mendekat atau hendak melintas celah.
Penjagaan hanya dilonggarkan tiap sembilan tahun sekali. Ketika kaum dari luar tembok mengadakan Pekan Raya Peri serta mendirikan kios-kios di sekitar padang rumput tepat di balik tembok.
Ya, penghuni di luar desa Tembok adalah peri-peri serta penyihir.

Dunstan Thorn seorang pemuda tanggung dari desa Tembok, tak sengaja menjalin hubungan dengan peri cantik penjaga kios di pekan raya. Memang perjumpaan mereka berjalan tak lebih dari sehari semalam, namun siapa sangka bahwa dari pertemuan singkat itu mereka justru menghasilkan keturunan: Tristan Thorn.
Sejak kecil bocah setengah manusia dan setengah peri itu tinggal di bawah asuhan ayahnya di dalam tembok. Sementara sang ibu tetap tinggal entah di sudut mana di negeri peri.

Petualangan Tristan resmi dimulai suatu malam, ketika ia memberanikan diri untuk melangkahkan kaki ke luar dari desa. Namun sebelumnya, tentu ia harus melewati para penjaga yang mengapit celah penghubung antara desa Tembok dan negeri peri.

Setelah membaca novel ini hingga akhir, penilaian yang dapat saya buat adalah empat, dari skala satu sampai lima.
Mengapa hanya empat? Karena sejujurnya, di awal saya merasa amat-amat-amat bosan dengan kisah cinta antara Bridget Comfrey dan Tommy Forester muda, orang tua dari Victoria Forester, gadis yang nantinya membuat Tristan jatuh hati hingga rela meninggalkan desa Tembok. Entah karena belum terbiasa dengan bahasa yang digunakan oleh penerjemah dalam novel ini, atau karena memang plot saja yang kurang menarik. Ya, ada sesuatu yang mengganggu mood membaca saya di bab-bab pertama.
Namun lambat-laun setelah karakter utama menginjakkan kaki di dunia peri, saya mulai benar-benar menikmati dan terjun bebas ke dalam kisah mereka. Terasa ringan, menarik, dan seru.
Sekali lagi Neil Gaiman berhasil membawa saya berkelana ke hutan-hutan indah, desa Tembok, serta dunia peri.
Membuktikan bahwa dongeng bukan tercipta hanya untuk anak-anak saja, bahkan kita pun bisa menjadi salah satu penikmat setianya.
Saya lumayan setuju dengan kutipan di bawah:





P.S. Novel ini direkomendasikan untuk mereka; orang dewasa yang rindu akan dongeng.

Bye.

Jumat, 04 April 2014

Mie Kuah Susu

Selamat malam, khalayak ramaaai!!
*krik krik krik

Oke, ternyata emang sepi.

Pasti lagi pada nganggur ya? Ya kan? Ya dong? Yaiyalah, kalau nggak nganggur rasanya mustahil deh bisa nyasar ke blog tak terjamah begini.
Daripada kalian nggak ada kerjaan, ngaplo, ndelahom sepanjang internet, scroll sana-sini, stalking orang nggak kenal, mending sekarang ke dapur aja gih! Kita main masak-masakan! :3
Ini serius. Baru-baru ini di twitter aku ngelihat salah satu akun kesayanganku *ceilah si @JukiHoki ngeshare sebuah resep yang katanya sih udah ada dari jaman dahulu kala, tapi jujur aku baru pertama kali dengar: Mie Susu.

Ada yang udah pernah tahu?



#salah

Kalau kalian Kaskuser kayaknya sih udah pada tahu. Soalnya setelah baca tweet-tweet dari Juki aku langsung tancap jari ke google buat mastiin makanan macam itu emang beneran ada, dan eh... malah nemu threadnya di Kaskus.
Bedanya di thread itu si TS pakai in*domie goreng [cari keyword: Milkgoreng], sementara berdasarkan suara terbanyak followers Juki yang udah nyoba, mereka pakai indo*mie kuah rasa ayam bawang.
Habis masak mereka langsung pada upload ke twitter pula foto mie susu anget-angetnya. Jujur, pas awal agak nggg. Seriously?
Tapi ngelihat makin banyak yang nyoba dan ngasih komentar positif, jadi penasaran dong ya?
Semua nyoba, masa aku enggak?
Dan dengan membulatkan tekad, memantapkan iman, serta menyingsingkan lengan, akhirnya aku melangkahkan diri juga ke medan tempur! (read: dapur)
Jadi nggak usah berpanjang ria~

Bahan dan alat yang disiapin juga nggak ribet kok!
Cukup perkakas rumah tangga yang biasa kalian pakai buat bikin mie instan aja... macam obeng, tang, cangkul, dan lain-lain. Yang normal gitulah.
Terus bahannya ind*omie rasa ayam bawang atau sesuai selera. Bebas.
Berhubung waktu itu aku nyari ke warung nggak ada indo*mie, ya udah jadilah mie se*daap. Sama aja sih kayaknya.
Dan jangan lupa!! Bahan utama untuk kuahnya: Susu putih (merk apa pun) Full Cream. Soalnya yang kita cari kan rasa gurih-gurih susu... kalau rasa vanila, coklat, atau stroberi takutnya lidah kalian malah kena stroke. Oke?

Jadi gini caranya:
• Rebus mie pakai air biasa sampai setengah matang, angkat.
• Buang air rebusan pertama, ganti pakai air susu, terus rebus lagi mie yang tadi sampai matang.
Kenapa ngerebusnya dua kali? Ya mungkin biar lilin pelapisnya luruh sama rebusan air pertama kalik ya(?) Jadi ntar si susu yang masih innocent nggak terkontaminasi(?) Udah, nurut aja deh biar selamet.
• Kalau udah matang, angkat mie sama kuah susunya ke mangkok.
• Nah untuk bumbu, cabe bubuk itu wajib masuk! Makin pedes makin enak. Dan yang harus dibuang adalah si minyak. Iya, minyaknya nggak usah dimasukin. Kata orang-orang sih bikin makin neg'. Katanya sih.
Selain minyak, semua bumbu masukin seperti biasa.

Dan?

KLONTANG KLONTANG KLONTANG JADI!



ewwwh?

Kelihatan nggak sedap ya meskipun bungkus mie s*edaap udah aku nongolin di situ? Menjijikkan mungkin? Ah itu karena kamu belum tahu rasanya aja... Cobain deh, biar paham.
Ngomong-ngomong, itu aku susunya pakai Danco*w Full Cream, dan tolong please ngasihnya jangan banyak-banyak. Aku beli sachetan aja cuma kepakai separoh. Rasanya udah beuuuuwh. Nggak papa. Alhamdulillah selamat.
Dan kalau kalian pengin tahu pendapatku tentang rasanya? Menurutku creamy-creamy gimana gitu. Makan pun sambil ngakak ngebayangin betapa nggak nyangkanya bikin dan makan makanan yang sarat akan keabsurditasan di atas! XD
Sempat kepikiran pengin lari lagi ke warung beli sosis... makan itu pakai topping sosis kayaknya lebih yahud.
Jadinya semacam Carbonara a la anak kos gitu kali yes?


Update 23 April 2014:

Hari ini mendadak Mie Susu jadi trending topic dan makanan sejuta umat.
Kayaknya kalian juga perlu lihat mie susu varian lain yang udah dibikin dan diupload ke twitter oleh para manusia! Entahlah. :))))



Mie Susu Sambel-sambelan. Sambelnya dibanyakin. Ini yakin deh makannya rame-rame di pos kamling. Biar kalau muntaber nggak muntaber sendirian. Pinter. - @RizalHRM





Mie Kuah Susu Cocacola(?) Wanjisss, aku tertohok pas lihat foto ini. Habis makan sendawanya rasa apa ya? - @FarisyMaulana





Ngomongin soal susu, rasanya nggak pas kalau nggak ditambahin topping oreo, macam toppingnya minuman-minuman mall jaman sekarang tuh! Iya gitu. Mie Susu Topping Oreo - @adrianpradana





Mie Susu Coklat. Baiklah, salut sama keberaniannya orang ini @Falsebastianus





Mie Sed*aap Bakso Kuah Fri*sian Fla*g kayaknya yang ini enak sih. Gambarnya. - @juliardi_ahmad


...Dan masih banyak Mie Susu absurd lain bertebaran di twitter. Kalian yang kebetulan baca post ini nyoba aja gih. Enak nggak enak yang penting pernah ngerasain kan? Daripada penasaran... Toh modal cuma mie dua ribu sama susu tiga ribuan. Huaha! *penghasut *kabur


QOTD dari Juki untuk menegarkan kalian, wahai warga:




Segitu aja. Bye!

Sabtu, 02 November 2013

Pablo Kucing Beradab



Ya, Pablo, begitu kami memanggilnya.
Pablo adalah kucing pertama dan satu-satunya yang sok-sokan kami klaim sebagai kucing kami (aku dan adik-adikku) padahal sama sekali nggak ada wacana atau hitam di atas putih yang menyebutkan kalau kami resmi memelihara kucing berbulu abu-abu kecoklatan tersebut.
Kami juga nggak pernah merasa bahwa kami senang dan nyaman dengan kehadiran hewan-hewan berbulu di sekitar kami. Atau bisa dibilang aku dan keluargaku sebenarnya lumayan anti sama ide tentang "ngeramut/ melihara hewan".

Tapi nggak tahu kenapa kehadiran kucing ini justru menimbulkan kesan berbeda di mata kami. Pablo nggak seperti kucing alay lain yang hobinya ngeang-ngeong sok merdu pas ngendus bebauan rada amis dikit. Yang suka lancang masuk ke rumah orang tanpa assalamu'alaikum atau cuci kaki.
Bayangin deh... empat kaki habis dari luar tanpa sandal, tanpa sepatu, keliaran ke mana juga cuma dia dan Tuhan yang tahu.
Siapa tahu di jalan dia nggak sengaja nginjek permen karet segar berlendir ketumpuk ludah beberapa layer? Siapa yang tahu kalau permen karet itu nempel di kakinya sementara dia jalan lagi dan nginjek tai? Siapa yang tahu kalau begitu nyampe rumah, dengan innocentnya dia naik-naik ke tempat tidur... KESET-KESET unyu di bantal sambil pura-pura ngasah kuku. SIAPA YANG TAHU?




#salah


Nggak heran kalau bangun tidur sang majikan ngerasa kesuciannya telah ternodai oleh kekhilafan kucing tersebut, kan? Kesucian tempat tidur maksudnya. Ya, nggak heran.
Dan jujur, itu hal yang paling aku benci dari hewan peliharaan yang biasa dibiarin keliaran di luar rumah. Andai mereka nggak anti air... tiap mau masuk rumah pasti bakal kusuruh buat cuci muka, cuci tangan, cuci kaki, kumur-kumur dulu. Pasti.
Ditambah lagi adik-adik cowokku emang semuanya punya asma, jelas sudah kami nggak berjodoh sama hewan berbulu apapun termasuk kucing.

Bahkan hewan terkece yang pernah kami pelihara bisa dihitung pakai jari, contohnya Philip dan kawan-kawan keongnya... yang entah ada berapa banyak. Dari semua keong yang kami punya, Philip-ku lah yang paling setia, patuh sama majikan, rajin ke pasar, jago masak, bahkan bercita-cita menjadi TKI. Gimana aku nggak bangga? Kurang hebat apa dia? Ha?
Sayang Philip mati sebelum sempat mewujudkan cita-cita mulianya. Tubuh ringkih Philip cedera sehabis dimandikan air mendidih oleh kakakku yang waktu itu masih super polos. Firasatku dia mau bikin semacam kolam pemandian air panas a la anime-anime gitu. #JongkokDepresi

Well, balik lagi deh ke Pablo. Pablo, dia bukan kucing jenis Angora, Persia, Pitbull, Puddle, Puddle Pop, Conello, Walls, dan lain sebagainya. Dia cuma peranakan kucing kampung yang dari kecil udah ditelantarkan sama orang tuanya. Tapi meski berasal dari kampung, Pablo sama sekali nggak kampungan. Dia kucing paling beradab dan tahu sopan-santun sepanjang pengetahuanku di bidang perkucingan, yang aku sendiri pun nggak gitu tahu.

Awal pertemuanku sama Pablo ini lumayan misterius... suatu malam kakak laki-lakiku maksa aku buat bangun, sebut saja Opik.
Sekadar FYI, dalam keluargaku, kami nggak mengenal sebutan Mas Mbak Kak, kami emang terbiasa manggil setiap orang pakai nama masing-masing.
Kayak di film-film barat tuh, bahkan anak bungsu pun manggil kakak paling tuanya cuma pakai nama tanpa embel-embel apapun. Aneh ya? Ah enggak biasa aja.
Lanjut ke cerita,
tengah malam Opik ngebangunin aku, dan tiba-tiba nyuruh meriksa bentar ke kamar mandi, "Ada makhluk aneh..." Katanya.
Begitu nyampe depan kamar mandi, emang benar ada makhluk kecil warna abu-abu kecoklatan mencungul dari sela-sela pintu kamar mandi. Aku yang waktu itu masih setengah ngantuk komentar, "Oh kodok."
"Ngawur, kodok nggak mungkin segede itu."
"Ya kodok dewasa lah."
"Lihat lagiii... masa kodok berbulu?"
Aku maju dikit, rada was-was. Benar. Ternyata emang berbulu. "Tikus, Pik."
"Tapi dari tadi pintunya kusenggol-senggol, dia tetep nggak mau minggir, nggak bersuara juga."
"Mati mungkin."
"Enggak, orang badannya masih gerak-gerak bernafas kok."
"Oh kejepit."
"Kalau kejepit pasti udah bersuara lah, masa ya diem aja?" Opik bingung. Aku apalagi.

Akhirnya dengan keberanian yang sok diada-adakan, aku maju lebih dekat ke pintu, pintu dibuka-tutup lagi. Saking kecilnya, itu makhluk masih tetep nyantol di sela-sela pintu. Tapi jelas banget dia emang kejepit. Dan makin diperhatikan makin kelihatan lah ternyata itu anak kucing.
"Pik anak kucing, Pik. Kejepit!" aku rada histeris plus iba ngelihatnya. Histeris sambil mikir darimana pula anak kucing ini datang? Dan kenapa bisa langsung masuk kamar mandi? Padahal jarak kamar mandi ke pintu luar kayak dari pucuk ke pucuk. Udah gitu atap kamar mandi juga nggak ada yang bolong.
Terus dari mana dia? Dari mana?? Kalau udah tahu kejepit kenapa nggak ngeong-ngeong minta tolong? WHYYY?
Singkat cerita, begitu kami tahu itu cuma kucing, Opik ngeluarin dia dari rumah, dan finally aku ngelanjutin kegiatan tidurku yang sempat diskip. *yaelah

Habis kejadian di atas, kami sama sekali nggak mikirin atau bahkan ingat lagi sama kucing itu.
Tapi suatu hari pas lagi nyuci piring di kran teras gara-gara air dapur mati... kucing-kucing kampung liar pada ngumpul. Mereka ngeang-ngeong sok preman sambil rebutan sisa makanan yang emang udah aku sisihkan dari piring. Tapi ada satu kucing yang menarik perhatian. Dia cuma diam sambil ngelihatin yang lain sibuk berantem. Dia bahkan nggak berusaha PDKT ke aku, hal yang lumrah dilakukan kucing awam buat minta makanan. Kucing itu masih kecil dan sekujur tubuhnya kelihatan gemetar. Entah dia kelaparan, kedinginan, atau mungkin ketakutan ngelihat tingkah kucing senior yang cakar-cakaran nggak tahu malu.
Berhubung aku nggak tega lihatnya, aku nyari-nyari ikan di dapur dan ngasihin ikan itu khusus buat dia. Waktu aku deketin buat ngasih pun dia malah lari tunggang-langgang ke pojokan dengan badan gemetar.
Hmmm kucing ini kayaknya emang belum pernah menjalin hubungan sama manusia lain, atau dia belum pernah ngelihat manusia secantik aku. Pasti dia nervous.
Aku pus-pusin dia nggak nyahut. Akhirnya aku nyerah dan naruh ikan itu satu meter di depan dia, sekalian mastiin makanannya nggak bakal direbut sama kucing lain.



Sejak kejadian itu, aku jadi lebih sering ngasih makan ke kucing kecil pendiam itu pas dia kebetulan lewat atau nongkrong bentar di teras rumahku. Meski masih sering gemeteran waktu dideketin, nggak pernah nyahut pas dipanggil, tapi dia udah nggak lari nervous terpesona lagi ngelihat aku. Sial!
Postur tubuhnya yang masih kecil banget ditambah sering gemetar bikin siapapun yang lihat makin iba, dan makin kelihatan kalau dia pasti belum bisa jaga diri atau cari makan sendiri di luar sana. Adik-adik dan orang tuaku pun akhirnya sering ikut ngasih dia makan.

Setelah beberapa minggu berlalu entah kenapa aku baru sadar kalau kucing itu emang bisu, tiap ku pus-pusin dia udah mau jawab tapi yang keluar cuma desahan nafas nggak jelas, dan kalau kuperhatiin bulu kucing itu warnanya abu-abu kecoklatan... #JrengJreng aku sadar itu kucing yang sama sama kucing tengah malam dulu.
Ah! Benar, jelas sudah semuanya. Kenapa kucing ini sering gemetaran dan penakut? mungkin dia menyimpan semacam dendam Nyi Pelet trauma batin gara-gara pas lahir secara ajaib kejepit di pintu kamar mandi.
Dan kenapa kucing ini pas kejepit dulu nggak bisa ngeong-ngeong atau teriak kesakitan? itu karena dia bisu.
Nggak tahu kenapa aku jadi makin merasa bersalah sama kucing satu ini, dan makin sering merhatiin dia termasuk tindakan over protective menempeleng kucing lain yang berani bikin ulah sama si doi.
Ya, waktu itu aku emang nggak kepikiran buat menyematkan nama sama sekali, karena faktanya kucing itu bukan peliharaan... aku cuma numpang merhatiin dia aja. Tapi beberapa bulan kemudian adikku mulai nyebut-nyebut dia pakai nama Pablo, jadilah kami serumah ikutan manggil Pablo. #KorbanTelenovela

Pablo bukan kucing sembarangan, meski dia penakut, bisu, kucing kampung, yatim piatu, tapi kelakuannya patut dijadikan suri teladan yang baik buat umat kucing yang lain. Itu sebabnya aku selalu berdoa biar kelak dia bisa jadi dosen.
Pablo nggak cerewet, nggak suka lancang masuk rumah orang kayak kucing pada umumnya yang kalau udah ngerasa diperhatiin pasti malah menjadi-jadi, atau bahasa jowonya "Ngelunjak. Ngelamak."
Dia adalah tipe kucing mandiri, tahu diri, dan lebih milih mengembara di luar, daripada menetap di dalam rumah manusia. Mungkin kalau ada rezeki dia malah mau nyicil rumah sendiri.

Pablo cuma datang main ke rumah kami sesekali dan itupun cuma di teras. Dia juga nggak over acting kalau nyium bau ikan/ amis lainnya, itu yang justru bikin kami pengin ngasih lebih banyak dan lebih banyak lagi makanan ke dia.
Memang benar pepatah yang mengatakan: Hewan sabar disayang Tuhan. Buktinya meski dia nggak hobi berebutan kayak kawan-kawannya yang lain, dia tetap kebagian makan juga. Malah lebih banyak.
Selain itu Pablo juga bukan wanita kucing murahan. Jangan kaget, Pablo itu cewek. Iya cewek. Tapi nggak kaget juga sih kalau kamu kaget, soalnya yang ngasih nama itu emang adikku yang kayaknya belum bisa bedain mana kucing cewek, dan mana kucing cowok -_____-

Pablo diumurnya yang udah lumayan gede sekarang, nggak tahu berapa, dia sama sekali belum ketahuan melakukan adegan dewasa di muka umum. Tahu sendiri kan kucing kalau udah gede kayak apa? Kejar-kejaran a la drama India di jalan dan di genteng pun mereka lakoni tanpa peduli disitu banyak anak kecil yang menyaksikan. Biadab memang.
Tapi beda sama Pablo, sampai sekarang dia masih belum tergoda sama kucing tampan manapun. Yah aku nggak tahu dia ini jomblo, atau emang nggak laku... tapi percaya Blo, jodoh Pablo di tangan Tuhan!
Berdoa aja minta supaya Pablo dapat kucing mapan, tampan, nan elegan. Oke, Blo?
Yang penting semoga Pablo nggak patah arah. Hidup Jombloooo! eh Pablooooh! Yipyip. ( 'o')9


Sorry, artikel nggak jelas Tribute To Pablo. Thanks yang udah baca! hidup dan waktumu terbuang sia-sia! :D
Ngomong-ngomong buat kamu yang punya kucing pria memenuhi kriteria: Mapan, Tampan nan Elegan. Boleh loh dijodohin sama Pablo~
What?
Kucingmu udah nggak jomblo? Tenang, Pablo siap dipoligami.